Dibalik Nobel Perdamain yang diberikan kepada Obama, banyak kalangan yang tidak setuju akan hal itu, seperti yang dilakukan Wiman Syahrur dengan membuat patung berbentuk Obama yang sedang naik becak (JP, 16/12/09). Pasalnya meski menerima Nobel Perdamain, Obama tetap mempertahankan keberadaan pasukan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Bahkan, Obama malah menambah 3000 pasukan lagi. Alih-alih ingin membuat perdamaian, Obama dan AS yang dipimpinnya membuat Irak dan Afghanistan porak-poranda. Obama dan AS sudah terlalu jauh ikut campur mengurusi Negara orang lain. Bukankah hal itu bertentangan dengan HAM yang mereka dengung-dengungkan? Apalagi ternyata dana yang dikeluarkan AS untuk perang Irak dan Afghanistan lebih banyak ketimbang dana yang dikeluarkan untuk mengurusi rakyat AS sendiri.
Apakah mungkin, jumlah pengeluaran yang sudah banyak itu tidak mengharapakan sesuatu yang tentunya dengan jumlah yang lebih besar?
Tak ada yang pernah tau batas kontrak dengan pemilik kehidupan ini.
Tak ada yang pernah tau siapa yang akan pergi dulu menemui-Nya.
Tak ada yang pernah tau apakah kita akan selalu bersama dengan keluarga yang selama ini bersama kita.
Ayah, ibu, kakak, adik, ataukah kita yang terlebih dulu pergi menemui-Nya?
Itulah kehidupan, ibarat seorang pengembara yang hanya berhenti beristirahat untuk meneguk setetes air sebagai penghilang dahaga yang tak bisa tertahankan lagi.
Bulan ini, tak pernah ku ketahui kalau ini adalah bulan terakhir bersamanya.
Tak pernah terfikir olehku jika liburan ini adalah liburan terakhirku bersamanya.
Tak pernah terlintas dalam benakku jika kepulanganku ke rumah adalah momen terakhir bersama.
Tak pernah...tak pernah...dan tak pernah
Hal ini menunjukkan betapa terbatasnya aku
Dan semakin menyakinkan aku, jika itulah sifat manusia yang memiliki keterbatasan, lemah, dan membutuhkan sesuatu yang lebih, yaitu ALLAH SWT.
I MisS yOu ukHti... (*nur haSanaH yang merindumu, peRpisahan dibulan jUni 2009)
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Kurang 2 bulan lagi menuju ujung akhir tahun di masa masehi. Langkah ini masih menuju tempat berkumpulnya intelektual media. Sebuah upaya penyadaran akan hakekat idealisme seorang jurnalis.
Pagi ini, bertemu dengan salah satu redaktur sebuah tabloid Pemkab di sebuah kota kecil di wilayah tapal kuda. Awalnya sih hanya menyerahkan press realese tapi berhubung masih ada tamu jadi kami menunggu. Jarum jam terus berputar disetiap detiknya. Lama^^
Akhirnya satu jam dari ruang tunggu, kami bertemu dengan pengasuh tabloid Pemkab. Sama Pak Pengasuh, kami dikenalkan dengan pimred tabloid resmi Pemkab. Jadilah kami berbincang, bertanya seputar isi tabloid. Dari pembicaraan ini, akhirnya ada sebuah statement yang memberi Vy ruang untuk bertanya.
“Pak, berbicara tentang idealisme seorang wartawan. Bagaimana menurut Bapak selaku jurnalis mengamati media saat ini. Melihat begitu seragamnya media ketika memberitakan pada masyarakat. Contoh kasus, masalah terorisme. Semua media memberitakan sebuah stigma teroris kepada Islam. Dalam masalah ini, tentunya ada sebuah pertentangan naluri jurnalis, antara memberitakan kebenaran atau mengikuti perintah pimpinan. Atau, maaf ya Pak, sekarang kan Bapak sebagai jurnalis Pemkab, secara otomatis akan memberitakan kebijakan-kebijakan Pemkab yang mungkin sebenarnya itu tidak sesuai dengan fakta. Hal ini tentunya terjadi pertentangan batin buat Bapak?” tanya Vy dengan nada tidak menyudutkan.
Sejenak Bapak itu terdiam menghela nafas, dan… astaghfirulloh, terlihat Kristal bening mulai memadati bola matanya. Kemudian Bapak itu berkata dan menatap dengan sorot mata yang mengisyaratkan sesuatu.
Bapak itu menjelaskan jurnalis secara global, katanya memang saat ini tidak ada jurnalis yang berbicara suatau kebenaran. Semuanya berbicara atas yang namanya “uang”, yaitu melihat trend apa yang lagi in di masyarakat. Namun, Bapak itu mengatakan dengan tegas bahwa beliau berusaha untuk mengatakan suatu kebenaran. Ada sebuah penekanan dari intonasi beliau ketika mengatakan kata “berusaha”. Selanjutnya beliau bilang, “bagaimanapun juga mbak, saya harus menafkahi keluarga saya.”
(sebuah jawaban yang tidak salah, tapi memiliki esensi yang mendalam, Vy paham)
Beliau sebenarnya juga menyadari bahwasanya pasti ada suatu pertentangan batin antara idealisme dan perintah pemimpin. Namun, dikatakan lagi kalau beliau akan selalu berusaha.
Kemudian dari diskusi yang panjang itu, Vy berkata lagi.
“Memang sulit ya Pak, hidup di era kapitalis seperti sekarang. Mau kesini harus sesuai atasan, kesana juga harus sesuai atasan.”
“Iya mungkin,” jawab beliau dengan tersenyum.
(Vy tau, pasti beliau memikirkan perkataan Vy “era kapitalis”. Sebenarnya Vy ingin mengatakan bahwa semua itu tidak akan terjadi kalau ada negara Islam yang so pasti akan memberikan riayahnya pada rakyatnya).
Inilah satu diantara sekian banyak permasalahan umat. Sudah dua kali ini, Vy mendapati jurnalis mengatakan ada pertentangan antara idealisme jurnalis yang seharusnya berbicara tentang kebenaran dengan kepentingan para pemilik modal.
Dari sini semakin menguatkan Vy, kaki ini tak akan berhenti melangkah, bibir ini tak akan berhenti memahamkan, tinta ini tak akan berhenti menggoreskan perubahan berfikir hingga akhirnya institusi Islam benar-benar berdiri tegak untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya, termasuk jurnalis. Hingga tak ada lagi Kristal bening yang menetes dari mata-mata makhluk bumi ini, kecuali Kristal bening tanda ketakwaan pada al-Mudabbir.
seoRang makhluk yang meriNdukan keJayaaN isLam...
Perubahan bukan hanya ucap manis dibibir tapi wujud nyata dalam sikap. Sama halnya dengan Khilafah, meski tegaknya Khilafah adalah janji Allah tapi kita berkewajiban untuk menyegerakan tegakknya Khilafah.
Karena berdiam diri dalam sistem kufur sama saja menanti ajal didepan pintu neraka, kita menabung sebuah amalan yang mempersiapkan diri kita pada siksanya. nA'UDZUBILLAHIMINDZALIK. UNTUK ITU BERSEGERA MENJADI BARISAN PEJUANG SYARI'AH DAN KHILAFAH! KARENA KEMENANGAN ITU SEGERA DATANG...