Tampilkan postingan dengan label aRtiKeLQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aRtiKeLQ. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

Mobil Dewan di atas Aspal Rakyat*

      Senada dengan anggota dewan daerah, kemarin (28/12) tim kabinet Indonesia Bersatu Jilid II serta pejabat tinggi Negara menikmati fasilitas mobil dinas baru seharga 1,2 M. Fantastis, jika untuk satu orang pejabat mengeluarkan dana 1,2 M, lalu berapa dana yang dikeluarkan untuk seluruh tim kabinet Indonesia Bersatu Jilid II serta pejabat tinggi Negara? Bisa dibayangkan, andai uang sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. Subhanaallah, luar biasa. Memangnya, apakah ada relevansi antara mobil seharga 1,2 M dengan kinerja dewan? Kita buktikan saja nanti!

Nobel Perdamaian atau Nobel Pembantaian?*


Dibalik Nobel Perdamain yang diberikan kepada Obama, banyak kalangan yang tidak setuju akan hal itu, seperti yang dilakukan Wiman Syahrur dengan membuat patung berbentuk Obama yang sedang naik becak (JP, 16/12/09). Pasalnya meski menerima Nobel Perdamain, Obama tetap mempertahankan keberadaan pasukan tentara AS di Irak dan Afghanistan. Bahkan, Obama malah menambah 3000 pasukan lagi. Alih-alih ingin membuat perdamaian, Obama dan AS yang dipimpinnya membuat Irak dan Afghanistan porak-poranda. Obama dan AS sudah terlalu jauh ikut campur mengurusi Negara orang lain. Bukankah hal itu bertentangan dengan HAM yang mereka dengung-dengungkan? Apalagi ternyata dana yang dikeluarkan AS untuk perang Irak dan Afghanistan lebih banyak ketimbang dana yang dikeluarkan untuk mengurusi rakyat AS sendiri.
Apakah mungkin, jumlah pengeluaran yang sudah banyak itu tidak mengharapakan sesuatu yang tentunya dengan jumlah yang lebih besar?

Sabtu, 31 Oktober 2009

Semua Jadi TO



Begitu heroiknya densus 88 dalam penangkapan teroris hingga membuat semua orang kini menjadi sasaran densus 88. Bagaimana tidak, setelah pengawasan terhadap ormas Islam yang memperjuangkan syari’at Islam hingga adanya pencitraburukan terhadap simbol-simbol Islam, seperti; jenggot, kerudung besar, jilbaber, ataupun cadar. Kini, densus 88 telah menjadikan mahasiswa sebagai target operasi. Setelah densus 88 mengeluarkan statmentnya, tak luput semua media baik elektronik maupun cetak memberitakan bahwa penerus Nordin belum habis karena mereka mempunyai penerus yaitu kalangan mahasiswa. Tak ayal saat ini kegiatan mahasiswa bakal diawasi, bahkan pemberian stigma mahasiswa yang menjadi kader teroris pun beredar di masyarakat. Mulai mahasiswa yang kritis, memiliki keinginan untuk memperjuangkan Islam, sampai adanya kepedulian terhadap saudaranya di belahan negri Islam yang lain.
Ada apa dengan densus 88. Apakah mereka kehilangan cara sehingga saat ini membidik mahasiswa yang kritis? Kenapa juga aparatur Negara ini tidak menindak mahasiswa yang melakukan free sex, narkoba, ataupun aborsi?
Melihat perkembangan kinerja densus 88 dalam penangkapan teroris, bisa jadi nanti tukang becak jadi sasarannya. Bagaimana tidak, kehidupan yang serba sulit dan iming-iming bayaran untuk jihad bias menjadi alasan densus 88. Atau jangan-jangan kita nanti yang menjadi giliran TO (Target Operation) densus 88.

SALAH=BENAR, BENAR=SALAH

Saat ini sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pasalnya, banyak fakta yang menyalahkan kebenaran dan membenarkan yang salah. Dalam kasus Lumpur Lapindo misalnya, kita sudah sama-sama tahu kasus Lumpur Lapindo sampai 4 tahun ini belum kunjung selesai. Masalah relokasi ataupun ganti rugi, semuanya hanya janji-janji palsu. Tapi aneh bin ajaib di negri ini. Orang yang notabene harus bertanggungjawab dalam masalah ini masih saja dipercaya. Bahkan saat ini malah dijadikan Ketua Umum Partai Golkar, sebut saja Abu Rizal Bakrie. Abu Rizal Bakrie seolah-olah bebas dari tanggungjawabnya dengan banyak kambing hitam yang diperkarakan dalam kasus Lumpur Lapindo. Banyak orang memberi dukungan dan harapan padanya. Padahal dari kasus Lumpur Lapindo saja, semua orang bisa menilai.
Jika dalam masalah Lumpur Lapindo saja tidak bisa selesai, bagaimana nanti jika menjadi Presiden atau Wapres jika itu yang menjadi tujuan Golkar di Pilpres 2010. Padahal saat bencana Lumpur Lapindo terjadi Abu Rizal Bakrie menjabat sebagai Menkokesra. Inilah bukti sebuah ketidakadilan di negri ini. Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Apakah orang-orang di zaman kapitalis ini benar-benar dibutakan oleh materi.

Rabu, 30 September 2009

MERDEKA DENGAN KRUPUK


Merdeka dan krupuk adalah dua kata yang berhubungan. Betapa tidak, karena faktanya dinegri ini tradisi kemerdekaan diisi dengan lomba makan krupuk. 64 tahun merdeka tapi ritual untuk memperingati kemerdekaan selalu diisi dengan makan krupuk, balap karung, gerak jalan, dan perlombaan yang lainnya. Sebuah kegiatan yang sifatnya hanya reflesing semata.
Sebuah kemerdekaan harusnya diisi dengan kegiatan yang membawa perubahan bagi bangsa dan rakyatnya. Seharusnya pemerintah dan rakyat negri ini merubah mainstrem yang sudah mengakar dalam benak sanubari. Mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan yang mampu mencetak generasi bangsa ini menjadi pemikir dan membuat inovasi-inovasi baru bukan mencetak generasi yang cepat makan krupuk. Kalau selalu makan krupuk, kapan merdekanya?