Detik berganti menit, menit berberganti jam
Jam berganti hari, hari berganti minggu
Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun
Dan tahun berganti tahun yang baru
Menandakan batas kontrak dengan pemilik hidup semakin dekat
Sejak ku putuskan hidupku untuk menjadi prajurit pejuang dien-Nya, maka rutinitasku telah berubah. Sudah tidak seperti sebelum aku memahami syari’at-syari’at-Nya. Praktis, yang awalnya aku bisa pulang setiap liburan, kini harus menyesuaikan dengan agenda dakwah. Hm, yang pertama merasakan dampak perubahanku ini tentunya adalah keluarga. Iya, mereka kini tidak bisa terus-menerus bersamaku. Meski komunikasi tetap terjalin, tapi aku tahu bagaimana perasaan mereka sekarang. Terutama perasaan wanita yang melahirkan, membesarkan, dan mendidikku hingga saat ini. Wanita itu adalah ibuku. Mama yang aku cintai.
Tak terasa 6 tahun sudah aku meninggalkannya. 6 tahun, mungkin itu waktu yang lama. Tapi bagiku itu baru saja kemarin. Bahkan terasa baru sehari yang lalu aku berada di suatu tempat yang lain. Hm...tak terasa waktu berjalan sangat cepat.
Hingga tepatnya, waktu berada di hari Senin, 9 Agustus 2010. Saat kaki melangkah untuk sebuah amanah yang mulia. Nada pesan dari Hpku berbunyi.
Tuut...tuut...tuut...
Ku buka tombol kunci pengaman Hpku. Lalu ku baca pesan singkat itu,
“Nduk, kapan pulang? Kalau ada libur, pulang yo! Mama membelikan jilbab buatmu. Pulang yo biar bisa dicoba dulu. Pulang ya nduk!”
-----jilbab (red.pakaian panjang tidak berpotongan bagi perempuan muslim)------
Ssrrrr...
Ada desir dalam hatiku, ‘Ya Allah, aku telah berjanji pada-Mu untuk memilih jalan ini.’ Bismillah, ku pencet tombol-tombol huruf di Hpku,
“eM, romadHon tahun ini Vy mau bangun istana buat Mama di surga, jadi diikhlaskan ya Ma, vy tdk pulang dulu. Soalnya mau ngisi training di SMP dan SMA. Barokallah.”
Terus ku pencet tombol kirim. Tidak lama kemudian nada pesanku kembali berbunyi. Ada sebuah pesan singkat, bahkan teramat singkat. Tapi mampu mengalirkan kristal beningku.
“Mama kangen nduk”
Allah, terlihat jelas rona teduh itu di depanku. Ada pengharapan besar yang terpancar.
Kembali ku tekan tombol-tombol huruf Hpku,
“Iya, vy juga. Mama pilihkan aja, vy pasti seneng kok. Yakin deh Ma, pasti Allah mengganti keikhlasan Mama dengan yang lebih baik yaitu jannah-Nya”
Ku kirim pesan penuh do’a itu dengan mengalirnya kristal bening dari bola mata dan hatiku.
Tak ada lagi balasan.
Aku yakin, pasti Mama saat ini juga sama denganku, menangis.
Tapi aku yakin, tangisan Mama bukan karena kecewa denganku. Tapi insyaAllah bangga karena memiliki putri sepertiku. Putri yang kelak menjadi mujahidah di garda terdepan dalam keluarganya. Yang akan menjemput Mama dipintu surga-Nya, insya Allah. Dan aku tidak menyesal dengan keputusan yang kuambil karena insya Allah ini merupakan wujud cintaku pada-Nya, pada pemilik kehidupan.
Wahai saudariku...
Para wanita dan para ibu
Mari kita bersama-sama berlomba menggapai ridho-Nya
Dengan memanfaatkan momen romadhon tahun ini
Semoga romadhon tahun ini merupakan momentum penegakkan Khilafah di bumi Allah yang tak lagi teduh ini
Dan mari kita berlomba-lomba membangun istana untuk wanita yang bersedia menjadi tempat kita berlindung dikala kita masih menjadi janin. Wanita yang mengorbankan jiwanya untuk kita. Wanita yang memberikan cinta dan kasihnya untuk kita. Wanita yang mengenalkan kita pada Islam. Ya, untuk ibu kita...
Ma...
Jazakumulloh khoiron jaza’
Aku merindukanmu lebih dari yang kau tau...
(diambil dari kumpulan do'a karya nur haSanaH)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar