Tampilkan postingan dengan label sYuKuR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sYuKuR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2009

Seribu…*




Seribu. Angka satu yang dibelakangnya ada tiga angka nol. Ya itulah seribu, lengkapnya seribu rupiah. Zaman kapitalis seperti saat ini dibuat apa uang seribu itu? Paling-paling cukup untuk membeli 2 buah gorengan ato 10 buah permen ato 10 buah krupuk. Yam-yam, yumi! Ya itulah seribu rupiah. Tapi disisi lain uang 1 Milyar gak akan jadi 1 Milyar kalau kurang seribu rupiah, jangankan 1 Milyar, uang 500 ribu untuk bayar SPP semesteranku juga akan ditolak jika kurang seribu. Betul?
Seribu. Aku gelisah, resah, dan bigung dengan uang seribu yang kini ada digenggamanku. Sudah satu minggu ini aku bersama uang seribu rupiah, just seribu rupiah. Ya Allah...hamba-Mu ini bingung, benar-benar bingung harus bagaimana karena waktu pasti akan terus berjalan dan butuh pengeluaran yang banyak. Sedangkan uang yang kumiliki hanya tinggal seribu rupiah. Ya hanya seribu rupiah. Diantara kegelisahan, jauh dilubuk hati ini aku yakin pasti semua dapat kuatasi.
Jam berganti menit, menit berganti detik, dan detik demi detik telah kulalui. Tiba-tiba datanglah teman kuliah ke kosku, dia datang untuk membeli barang-barang daganganku, kebetulan waktu itu dia mau beli pigura. Setelah beberapa menit melihat akhirnya dia beli 3 buah pigura yang harganya masing-masing Rp. 7500, Rp. 8000, dan Rp. 10.000. jadi jika ditotal semuanya berjumlah Rp. 25.500. Subhanallah... kristal bening dalam bola mataku ini sudah memadati area mataku seakan mereka mau berhamburan untuk keluar. Tentunya aku masih bisa menahan gelombang deras ini.
Setelah temanku pergi, kristal bening ini akhirnya tumpah juga. Aku tak mampu lagi membendungnya. Allah, uang seribu rupiah itu telah berubah menjadi 26.500. Jauh dari cukup untuk keperluanku selama sebulan. Sebulan? Ya, sebulan. Jumlah uang itu cukup bagiku untuk keperluanku selama sebulan. Bagiku sudah terlalu cukup.
Allah tahu kebutuhan dari masing-masing hambanya. Alhamdulillah satu bulan ini aku bisa mengatasi keperluanku tanpa membebani keluargaku dirumah. Meski aku berasal dari keluarga yang terbilang sangat amat cukup tapi berkat didikan Mama, aku beserta saudara-saudaraku yang lain tidak termasuk anak-anak yang manja, yang selalu merengek bila membutuhkan sesuatu. Jika saja keluargaku tahu apa yang kualami pasti rumahku akan menjadi lauran kristal bening. Andai saja mereka tahu kenapa bisa seperti ini, jawabannya tidak lain karena aku telah berazzam untuk menjadi penolong dien (agama) Allah. Ya aku selalu mengingat sebuah hadits ”Allah akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya” dan akulah salah satu penolong-Nya. InsyaAllah.
Kisah ini nyata dan mungkin jutaan bahkan milyaran penolong dien-Nya juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kualami bahkan mungkin lebih dasyatnya ketimbang yang kualami. Kisah ini sengaja aku tulis karena semoga bisa menjadi semangat kaum muslimin yang lainnya untuk percaya akan janji Allah. Ya janji Allah.
Untuk teman-teman yang masih ragu, buang jauh-jauh keraguan itu karena keraguan itulah yang menjadi penghambat dirimu masuk ke Jannah-Nya. Ok, met berjuang ikhwah fillah dalam penegakkan syari’at secara totalitas dalam semua lini kehidupan tentunya dalam naungan sistem Islam yaitu DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH. AllahuAkbar!


(*dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)

Nol…*



Ya ini kisah yang sejenis seperti yang kutulis sebelumnya. Kisah ini sengaja kutulis karena aku menemui banyak orang yang tidak percaya akan janji Allah sehingga mereka tidak bersegera untuk menjalankan syari’at Allah. Bahasa gaulnya tidak bersegera untuk menjalankan aturan-aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Ya...ya...ya semoga Anda yang membaca tulisan ini bukan termasuk orang-orang yang menunda-nunda untuk terikat dengan aturan Allah. Amiin.
Kalau sebelumnya kisah saya seribu rupiah tapi saat ini adalah nol, ya nol yang berarti saya sudah tidak punya uang lagi padahal hari-hari masih panjang untuk dilalui. Tapi bagaimana lagi jika memang sudah gak punya uang lagi ya jadinya nol deh. Sama seperti kisah sebelumnya aku juga bingung, resah, gelisah semuanya bercampur jadi satu. Hanya ada satu jalan tapi itu dengan keterpaksaan yang sangat. Aku harus mengambil uangku di seorang teman. Akhirnya aku sms-in dia dengan permintaan maaf yang sangat karena aku tahu kondisinya juga nggak jauh beda denganku. Dan hasilnya, nihil. Aku paham dan bisa mengerti. Aku hanya bisa berkata ”Allah, hamba telah membuat transaksi dengan-Mu. Pasti Engkau merencanakan sesuatu yang teramat indah bagiku. Ya teramat indah.”
Aku buang jauh-jauh keresahanku dengan nimbrung, ngobrol dengan teman-teman kosanku. Hm...Ya Allah pernahkah mereka mengalami sepertiku. Semoga jangan, ya jangan sampai mereka mengalami sepertiku, biarlah aku saja. Diantara tawa canda yang mereka berikan padaku sudah cukup bagiku untuk mengobati keresahanku. Tapi...lagi-lagi wujud cinta Allah itu kurasakan untuk sekian kalinya. Temanku yang menjualkan barang-barang daganganku dirumahnya menyerahkan hasil penjualan. Subhanallah, lagi kristal bening ini ingin berhamburan keluar. Setelah temanku pulang kulihat bungkusan plastik berwarna kuning itu sekilas terlihat jelas uang 20 ribu. Alhamdulillah, akhirnya aku buka bungkusan itu dan ternyata Allah...nol itu berubah menjadi Rp 98.000. Ya Allah...Nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?
Masihkah ada orang yang tidak percaya dengan janji Allah? Allahu’alam bish showab. Semoga Anda yang sebelum membaca tulisan ini termasuk golongan orang-orang yang menunda untuk terikat dengan aturan-Nya semoga setelah membaca tulisan ini Anda menjadi orang-orang yang bersegera untuk terikat dengan atura-aturan-Nya. ”Sami’na wa atho’na, saya dengar dan saya patuh ya Allah.”

(dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)