
Seribu. Angka satu yang dibelakangnya ada tiga angka nol. Ya itulah seribu, lengkapnya seribu rupiah. Zaman kapitalis seperti saat ini dibuat apa uang seribu itu? Paling-paling cukup untuk membeli 2 buah gorengan ato 10 buah permen ato 10 buah krupuk. Yam-yam, yumi! Ya itulah seribu rupiah. Tapi disisi lain uang 1 Milyar gak akan jadi 1 Milyar kalau kurang seribu rupiah, jangankan 1 Milyar, uang 500 ribu untuk bayar SPP semesteranku juga akan ditolak jika kurang seribu. Betul?
Seribu. Aku gelisah, resah, dan bigung dengan uang seribu yang kini ada digenggamanku. Sudah satu minggu ini aku bersama uang seribu rupiah, just seribu rupiah. Ya Allah...hamba-Mu ini bingung, benar-benar bingung harus bagaimana karena waktu pasti akan terus berjalan dan butuh pengeluaran yang banyak. Sedangkan uang yang kumiliki hanya tinggal seribu rupiah. Ya hanya seribu rupiah. Diantara kegelisahan, jauh dilubuk hati ini aku yakin pasti semua dapat kuatasi.
Jam berganti menit, menit berganti detik, dan detik demi detik telah kulalui. Tiba-tiba datanglah teman kuliah ke kosku, dia datang untuk membeli barang-barang daganganku, kebetulan waktu itu dia mau beli pigura. Setelah beberapa menit melihat akhirnya dia beli 3 buah pigura yang harganya masing-masing Rp. 7500, Rp. 8000, dan Rp. 10.000. jadi jika ditotal semuanya berjumlah Rp. 25.500. Subhanallah... kristal bening dalam bola mataku ini sudah memadati area mataku seakan mereka mau berhamburan untuk keluar. Tentunya aku masih bisa menahan gelombang deras ini.
Setelah temanku pergi, kristal bening ini akhirnya tumpah juga. Aku tak mampu lagi membendungnya. Allah, uang seribu rupiah itu telah berubah menjadi 26.500. Jauh dari cukup untuk keperluanku selama sebulan. Sebulan? Ya, sebulan. Jumlah uang itu cukup bagiku untuk keperluanku selama sebulan. Bagiku sudah terlalu cukup.
Allah tahu kebutuhan dari masing-masing hambanya. Alhamdulillah satu bulan ini aku bisa mengatasi keperluanku tanpa membebani keluargaku dirumah. Meski aku berasal dari keluarga yang terbilang sangat amat cukup tapi berkat didikan Mama, aku beserta saudara-saudaraku yang lain tidak termasuk anak-anak yang manja, yang selalu merengek bila membutuhkan sesuatu. Jika saja keluargaku tahu apa yang kualami pasti rumahku akan menjadi lauran kristal bening. Andai saja mereka tahu kenapa bisa seperti ini, jawabannya tidak lain karena aku telah berazzam untuk menjadi penolong dien (agama) Allah. Ya aku selalu mengingat sebuah hadits ”Allah akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya” dan akulah salah satu penolong-Nya. InsyaAllah.
Kisah ini nyata dan mungkin jutaan bahkan milyaran penolong dien-Nya juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kualami bahkan mungkin lebih dasyatnya ketimbang yang kualami. Kisah ini sengaja aku tulis karena semoga bisa menjadi semangat kaum muslimin yang lainnya untuk percaya akan janji Allah. Ya janji Allah.
Untuk teman-teman yang masih ragu, buang jauh-jauh keraguan itu karena keraguan itulah yang menjadi penghambat dirimu masuk ke Jannah-Nya. Ok, met berjuang ikhwah fillah dalam penegakkan syari’at secara totalitas dalam semua lini kehidupan tentunya dalam naungan sistem Islam yaitu DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH. AllahuAkbar!
(*dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar