Selasa, 03 November 2009

seBuaH ideaLismE*





Bumi yang tak lagi menghijau, 3 November 2009


Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Kurang 2 bulan lagi menuju ujung akhir tahun di masa masehi. Langkah ini masih menuju tempat berkumpulnya intelektual media. Sebuah upaya penyadaran akan hakekat idealisme seorang jurnalis.

Pagi ini, bertemu dengan salah satu redaktur sebuah tabloid Pemkab di sebuah kota kecil di wilayah tapal kuda. Awalnya sih hanya menyerahkan press realese tapi berhubung masih ada tamu jadi kami menunggu. Jarum jam terus berputar disetiap detiknya. Lama^^

Akhirnya satu jam dari ruang tunggu, kami bertemu dengan pengasuh tabloid Pemkab. Sama Pak Pengasuh, kami dikenalkan dengan pimred tabloid resmi Pemkab. Jadilah kami berbincang, bertanya seputar isi tabloid. Dari pembicaraan ini, akhirnya ada sebuah statement yang memberi Vy ruang untuk bertanya.

“Pak, berbicara tentang idealisme seorang wartawan. Bagaimana menurut Bapak selaku jurnalis mengamati media saat ini. Melihat begitu seragamnya media ketika memberitakan pada masyarakat. Contoh kasus, masalah terorisme. Semua media memberitakan sebuah stigma teroris kepada Islam. Dalam masalah ini, tentunya ada sebuah pertentangan naluri jurnalis, antara memberitakan kebenaran atau mengikuti perintah pimpinan. Atau, maaf ya Pak, sekarang kan Bapak sebagai jurnalis Pemkab, secara otomatis akan memberitakan kebijakan-kebijakan Pemkab yang mungkin sebenarnya itu tidak sesuai dengan fakta. Hal ini tentunya terjadi pertentangan batin buat Bapak?” tanya Vy dengan nada tidak menyudutkan.

Sejenak Bapak itu terdiam menghela nafas, dan… astaghfirulloh, terlihat Kristal bening mulai memadati bola matanya. Kemudian Bapak itu berkata dan menatap dengan sorot mata yang mengisyaratkan sesuatu.

Bapak itu menjelaskan jurnalis secara global, katanya memang saat ini tidak ada jurnalis yang berbicara suatau kebenaran. Semuanya berbicara atas yang namanya “uang”, yaitu melihat trend apa yang lagi in di masyarakat. Namun, Bapak itu mengatakan dengan tegas bahwa beliau berusaha untuk mengatakan suatu kebenaran. Ada sebuah penekanan dari intonasi beliau ketika mengatakan kata “berusaha”. Selanjutnya beliau bilang, “bagaimanapun juga mbak, saya harus menafkahi keluarga saya.”

(sebuah jawaban yang tidak salah, tapi memiliki esensi yang mendalam, Vy paham)

Beliau sebenarnya juga menyadari bahwasanya pasti ada suatu pertentangan batin antara idealisme dan perintah pemimpin. Namun, dikatakan lagi kalau beliau akan selalu berusaha.

Kemudian dari diskusi yang panjang itu, Vy berkata lagi.

Memang sulit ya Pak, hidup di era kapitalis seperti sekarang. Mau kesini harus sesuai atasan, kesana juga harus sesuai atasan.”

“Iya mungkin,” jawab beliau dengan tersenyum.

(Vy tau, pasti beliau memikirkan perkataan Vy “era kapitalis”. Sebenarnya Vy ingin mengatakan bahwa semua itu tidak akan terjadi kalau ada negara Islam yang so pasti akan memberikan riayahnya pada rakyatnya).


Inilah satu diantara sekian banyak permasalahan umat. Sudah dua kali ini, Vy mendapati jurnalis mengatakan ada pertentangan antara idealisme jurnalis yang seharusnya berbicara tentang kebenaran dengan kepentingan para pemilik modal.

Dari sini semakin menguatkan Vy, kaki ini tak akan berhenti melangkah, bibir ini tak akan berhenti memahamkan, tinta ini tak akan berhenti menggoreskan perubahan berfikir hingga akhirnya institusi Islam benar-benar berdiri tegak untuk melindungi dan mengayomi rakyatnya, termasuk jurnalis. Hingga tak ada lagi Kristal bening yang menetes dari mata-mata makhluk bumi ini, kecuali Kristal bening tanda ketakwaan pada al-Mudabbir.

Dilema dibumi yang tak lagi menghijau^^-


Tidak ada komentar: