Sabtu, 31 Oktober 2009

PKL: ANTARA PROGRAM PEMERINTAH DAN PERUT RAKYAT


Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) dari dulu sampai sekarang masih menjadi sebuah polemik. Pasalnya, upaya yang dilakukan Pemkab Jember dalam menjaga keindahan tata ruang kota dengan penertiban PKL, baik itu di wilayah segi tiga emas maupun wilayah-wilayah yang menjadi sasaran program Pemkab, belum kunjung selesai. Penertiban PKL ini merupakan hal yang dilematis. Disatu sisi, pemerintah menginginkan keindahan tata ruang kota tapi tetap menarik retribusi bagi PKL (Radar Jember, 23/9/09). Namun disisi lain, PKL harus berjualan untuk menghidupi keluarganya. Apalagi dengan permasalahan ekonomi di negri ini, semakin menyuburkan orang-orang untuk bekerja di sektor informal. Jika hal ini tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka permasalahan ini tidak akan kunjung selesai bahkan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru.
Berdasarkan pengamatan penulis selama ini, pemerintah tidak serius dalam penanganan masalah PKL. Misalnya, pemerintah tidak mempunyai perencanaan yang jelas dalam penertiban PKL. Hal ini ditunjukkan dengan waktu penertiban yang sifatnya sporadis bahkan bisa ditebak (red. hafal) oleh para PKL. Jika ada waktu, ada momen, maka PKL menjadi obyek sasaran. Jika tidak ada waktu, tidak ada momen, PKL dibiarkan menjamur seperti fakta yang selalu terjadi. Apalagi tindakan Satpol PP yang melakukan penertiban dengan mengangkuti bahkan merusak barang-barang dagangan PKL, hal itu tentunya merugikan para PKL karena tidak hanya digusur tetapi mereka juga kehilangan barang dagangannya. Hal ini seharusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah, dimana keberadaan barang-barang dagangan yang telah diangkut petugas Satpol PP? dan masuk kemana uang retribusi yang ditarik dari para PKL? Pemerintah jangan hanya sibuk dengan perebutan kursi di dewan atau sibuk mengisi kantong ketika sudah terpilih tetapi juga harus memperhatikan permasalahan rakyatnya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah dalam penertiban PKL. Pertama, pemerintah harus serius dalam masalah PKL. Sifatnya jangan spontan tanpa perencanaan. Jangan sampai menertibkan PKL karena ada piala Adipura, kunjungan Presiden, atau event-event yang membutuhkan keindahan kota. Kedua, diadakannya musyawarah antara PKL dan pemerintah, selain itu libatkan masyarakat dan dinas tata ruang kota. Agar jika disepakati adanya tempat penampungan bagi PKL, tempat tersebut bersama-sama membawa keuntungan baik bagi PKL, pemerintah, dinas tata ruang kota, dan tentunya masyarakat sebagai konsumen. Selama ini relokasi yang dijanjikan pemerintah pada faktaya tidak menguntungkan PKL dengan sepinya tempat baru mereka. Misalnya, PKL di wilayah kampus. Dalam hal ini tentunya benar-benar harus dipikirkan tempat relokasi yang tepat bagi PKL maupun bagi masyarakat kampus. Karena tidak dapat dipungkiri, keberadaan PKL sangat membantu mahasiswa maupun masyarakat disekitar kampus. Adanya wacana relokasi PKL wilayah kampus dengan dibuatnya Pujasera harus benar-benar dipertimbangkan. Perlu diingat bahwa kampus sebagai wilayah pendidikan, tentunya keberadaan para PKL jangan sampai mengganggu kegiatan proses belajar mengajar. Jangan sampai wacana Pujasera diwilayah kampus malah mengganggu aktifitas belajar mengajar bahkan menimbulkan masalah baru. Seperti yang sekarang ini terjadi, dengan keberadaan warung remang-remang dimalam hari seharusnya juga mendapat perhatian dari Unej dan pemkab. Jangan sampai wacana Pujasera di wilayah kampus itu semakin menyuburkan kehidupan bebas mahasiswa. Sehingga penempatan PKL diwilayah kampus harus dipikirkan secara matang dan Pemkab jangan lepas tangan dengan menyerahkan masalah ini sepenuhnya kepada pihak Unej. Karena bagaimanapun, Pemkab mempunyai kewajiban dalam memperhatikan permasalahan rakyatnya, termasuk permasalahan PKL di wilayah kampus. Ketiga, pemerintah harus memperhatikan tempat relokasi baik dari sisi kebersihan, sanitasi, tata ruang kota, maupun kemudahan bagi PKL dan konsumen. Sehingga program yang dicanangkan pemerintah untuk keindahan tata ruang kota tidak mengganggu urusan perut rakyatnya. Baik itu perut PKL, mahasiswa, ataupun masyarakat yang menjadi konsumen dari keberadaan para PKL. Sudah saatnya pemerintah yang dipilih rakyat itu memberikan pelayanannya dan membuktikan janji-janji mereka sewaktu kampanye.

Semua Jadi TO



Begitu heroiknya densus 88 dalam penangkapan teroris hingga membuat semua orang kini menjadi sasaran densus 88. Bagaimana tidak, setelah pengawasan terhadap ormas Islam yang memperjuangkan syari’at Islam hingga adanya pencitraburukan terhadap simbol-simbol Islam, seperti; jenggot, kerudung besar, jilbaber, ataupun cadar. Kini, densus 88 telah menjadikan mahasiswa sebagai target operasi. Setelah densus 88 mengeluarkan statmentnya, tak luput semua media baik elektronik maupun cetak memberitakan bahwa penerus Nordin belum habis karena mereka mempunyai penerus yaitu kalangan mahasiswa. Tak ayal saat ini kegiatan mahasiswa bakal diawasi, bahkan pemberian stigma mahasiswa yang menjadi kader teroris pun beredar di masyarakat. Mulai mahasiswa yang kritis, memiliki keinginan untuk memperjuangkan Islam, sampai adanya kepedulian terhadap saudaranya di belahan negri Islam yang lain.
Ada apa dengan densus 88. Apakah mereka kehilangan cara sehingga saat ini membidik mahasiswa yang kritis? Kenapa juga aparatur Negara ini tidak menindak mahasiswa yang melakukan free sex, narkoba, ataupun aborsi?
Melihat perkembangan kinerja densus 88 dalam penangkapan teroris, bisa jadi nanti tukang becak jadi sasarannya. Bagaimana tidak, kehidupan yang serba sulit dan iming-iming bayaran untuk jihad bias menjadi alasan densus 88. Atau jangan-jangan kita nanti yang menjadi giliran TO (Target Operation) densus 88.

SALAH=BENAR, BENAR=SALAH

Saat ini sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pasalnya, banyak fakta yang menyalahkan kebenaran dan membenarkan yang salah. Dalam kasus Lumpur Lapindo misalnya, kita sudah sama-sama tahu kasus Lumpur Lapindo sampai 4 tahun ini belum kunjung selesai. Masalah relokasi ataupun ganti rugi, semuanya hanya janji-janji palsu. Tapi aneh bin ajaib di negri ini. Orang yang notabene harus bertanggungjawab dalam masalah ini masih saja dipercaya. Bahkan saat ini malah dijadikan Ketua Umum Partai Golkar, sebut saja Abu Rizal Bakrie. Abu Rizal Bakrie seolah-olah bebas dari tanggungjawabnya dengan banyak kambing hitam yang diperkarakan dalam kasus Lumpur Lapindo. Banyak orang memberi dukungan dan harapan padanya. Padahal dari kasus Lumpur Lapindo saja, semua orang bisa menilai.
Jika dalam masalah Lumpur Lapindo saja tidak bisa selesai, bagaimana nanti jika menjadi Presiden atau Wapres jika itu yang menjadi tujuan Golkar di Pilpres 2010. Padahal saat bencana Lumpur Lapindo terjadi Abu Rizal Bakrie menjabat sebagai Menkokesra. Inilah bukti sebuah ketidakadilan di negri ini. Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Apakah orang-orang di zaman kapitalis ini benar-benar dibutakan oleh materi.

Mujahidah dari Bumi Jihad ......


Aku Wanita Mujahidah Sejati....
Yang tercipta dari tulang rusuk lelaki yang berjihad...
Bilakah khan datang seorang peminang menghampiriku mengajak tuk berjihad....
Kelak ku akan pergi mendampinginya di bumi jihad....
Aku selalu siap dengan semua syarat yang diajukannya...
Cinta ALLAH, Rasul dan Jihad Fisabilillah.
Aku rela berkelana mengembara dengannya lindungi Dienullah.
Ikhlas menyebarkan dakwah ke penjuru bumi ALLAH.


Tak mungkin ku pilih dirimu...bila dunia lebih kau damba....
Terlupa kampung halaman, sanak saudara bahkan harta yang terpendam....
Hidup terasing apa adanya....asalkan diakhirat bahagia....
Bila aku setuju dan kaupun tidak meragukanku....
Bulat tekadku untuk menemanimu.....


Aku wanita mujahidah pilihan.....
Yang mengalir di nadiku darah lelaki yang berjihad...
Bila khan datang menghampiriku seorang peminang yang penuh ketawadhu'an....
Kelak bersamanya kuarungi bahtera lautan jihad....
Andai tak siap bisa kau pilih....
Agar kelak batin, jiwa dan ragamu tak terusik,
terbebani dengan segala kemanjaanku, kegundahanku, kegelisahanku....
terlebih keluh kesahku.....


tak mungkin aku memilihmu....
bila yang fana lebih kau cinta....
Lupa akan kemilau dunia dan remangnya lampu kota...
Lezatnya makanan dan lajunya makar durjana....
sebab meninggalkan dakwah karena lebih mencintaimu....
dan menanggalkan pakaian taqwaku karena laranganmu.....


Meniti jalan panjang di medan jihad....
Yang ada hanya darah dan air mata tertumpah....
serta debu yang berterbangan,
keringat luka dan kesyahidan pun terulang....
Jika masih ada ragu tertancap dihatimu....
Teguhkan 'azzam ' ku tuk lupa akan dirimu.....


Aku wanita dari bumi jihad....
dengan sekeranjang semangatberangkat ke padang jihad...
persiapkan bekal diri menanti pendamping hati, pelepas lelah serta kejenuhan....
tepiskan semua mimpi yang tak berarti....
Adakah yang siap mendamaikan hati ???
karena tak mungkin kulanjutkan perjalanan ini sendiri....
tanpa peneguh langkah kaki...pendamping perjuangan.....
Yang melepasku dengan selaksa do'a...
meraih syahid...tujuan utama...
Robbi....terdengar panggilan-Mu tuk meniti jalan Ridho-Mu...
Kuharapkan penolong dari hamba-Mu...menemani perjalanan ini.....






(*catatan Mujahidah dari Bumi Jihad, 16 Oktober 2009)


jiKa


 Jika waKtu daPat berputaR seJenaK…
aKu aKan mempeRbaiki maSaKu di tempo siLam. 
Masa yang KulalaiKan, yanG KubiaRkan berlalU beGitu saJa. 
Ya beRlalu…hinGga kiNi memBuatKu tertatiH…
(090908)

do'A


Izinkan aku mendapat pendamping seperti Azzam dalam tokoh novel Kang Abik Ketika Cinta Bertasbihnya. Seorang laki-laki yang optimis, pekerja keras, serta memiliki komitmen dalam hidupnya. Seperti aku yang bekerja keras dalam membantu keluargaku meski aku kadang kurang optimis dalam meraih impianku agar kelak menjadi inteprenur sejati. Hm...bangganya.
Izinkan aku mendapatkan pendamping seperti Fahri dalam tokoh novel Kang Abik Ayat-Ayat Cintanya. Seorang laki-laki yang sabar, penuh keikhlasan, smart dalam mengkaji dan mengamalkan ilmu Mu.
Izinkan aku mendapatkan imam yang cerdas, pandai, pekerja keras, yang selalu optimis dalam hidupnya, penuh kesabaran dan keikhlasan, mempunyai komitmen tinggi akan ideologi, dan tak kalah pentingnya dia seorang hamba yang menjadikan hidupnya untuk berjuang demi tegaknya Islam dan izzah kaum muslimin. Terlalu sempurna memang, tapi itulah harapanku. Harapan seorang hamba akan pasangan jiwanya yang kelak mendidik jundi-jundi penerus dien Islam.
Aku bukanlah wanita yang terpikat pada ketampanan seorang pria. Bukan pula pada harta yang melimpah. Aku hanya menginginkan seorang pria yang totalitas penghambaannya pada Allah, karena dengan cintanya pada Al Kholik pasti dia akan mencintai yang lain dan akan mendapatkan dunia seisinya.
Aku tak lagi memikirkan statusnya. Lajang, duda, ataupun pria yang sudah beristri. Yang aku inginkan dia mampu menjadi pemimpin dan pengayom bagiku, anak-anak, dan keluarga.
Jika dia pria beristri maka aku berharap dia panutan bagi keluarganya sehingga mampu membuat rumahnya harum bagai kesturi, bercahaya bagai permata, dan selalu didatangi para malaikat karena suara merdu dalam menyenandungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana setiap kaki yang masuk kedalam rumahnya akan merasakan kedamaian dan merasa enggan jika beranjak pulang.
Jika dia duda maka aku berharap dia adalah bapak yang mampu mendidik dan membimbing anak-anaknya agar kesolehan terbentuk diantara mereka.
Jika dia lajang maka aku berharap dia adalah pria yang tidak pernah membuat ikatan yang tidak disyari’atkan. Aku berharap ketika melihat wajahnya, ada keteduhan yang terpancar hingga membuat damai mata memandang sampai relung hatiku. Jika aku mendengar suaranya aku berharap nasehat-nasehat yng selalu terucap untuk selalu meningkatkan ketaqwaanku pada Kholikku. Jika melihat lakunya aku berharap keistiqomahan dan semangat da’wah yang selalu diukirnya.
Jika dia adalah dia aku berharap semoga dia yang terbaik bagi dien Islam sehingga dia baik untukku, keluarga, dan lingkunganku. Allah, siapa dia? Sampai detik ini aku belum juga menemukan tanda-tanda itu. Namun aku berharap semoga dia sabar dalam menantiku seperti aku sabar menanti akan hadirnya.

(dikutip dari kumpulan cerpen karya Nur Hasanah)

Senin, 19 Oktober 2009

yanG teRsiSa

Bukan maksud untuk melupa
tapi perlahan...lembar bertulis dan berwarna itu memudar oleh lekannya waktu...
Memoar tentang seorang jiwa
tak lagi mengisi lembar hidup
tak lagi ada canda tawatak lagi ada belai kasih
tak lagi ada kebersamaanyang tersisa...bias rona yang mulai
tak dapat ku kenali


(teruntuk jiwa yang menemani memberikan nafas kehidupan-Ich deNke aN diR)

Kamis, 15 Oktober 2009

Ada ciNta yanG laiN


Ada cinta yang lain
Saat ini ada cinta yang lain…
Sadar atau pun tidak…
Kini ada cinta yang lain di hati Bapak…


Bagiku tak mengapa jika kini memang ada cinta lain dihati Bapak
Asal dengan cara yang memang sesuai dengan aturan Illahi
Mungkin benar kalau Bapak kini ada cinta yang lain
Buktinya, cinta lain itu berusaha tuk mengambil hatiku juga

Saat itu, kukatakan pada cinta lain Bapak…
“Aku
aDalaH satU diaNtaRA muSlimah yang berIman paDa hUkum sYara Allah tentanG POLIGAMI. Dan aku satu diaNtara muSlimaH yang berSedia  di POLIGAMI. MenjaDi iStri ke 4, 3, 2, ataupun menjadi istri yang peRtaMa bukanLah maSalaH bagiku, kaRena tuJuan peRnikaHan baGiku buKanlaH memuaSkan sYaHwat taPi menCetaK generaSI muJahid wa MujtahiD, dan yang teRpentinG aDalaH mendaPat ridho Allah. ALLAH…teNtu POLIGAMI yang seSuai deNgaN  hukuM sYaRa’MU buKan yang diPahaMi masyaRakat saAt ini. ALLAH saDaRkaN meReka yang ataS naMa CintA MENODAI HUKUM SYARA’MU  AKAN POLIGAMI*


(dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)

Selasa, 06 Oktober 2009

Seribu…*




Seribu. Angka satu yang dibelakangnya ada tiga angka nol. Ya itulah seribu, lengkapnya seribu rupiah. Zaman kapitalis seperti saat ini dibuat apa uang seribu itu? Paling-paling cukup untuk membeli 2 buah gorengan ato 10 buah permen ato 10 buah krupuk. Yam-yam, yumi! Ya itulah seribu rupiah. Tapi disisi lain uang 1 Milyar gak akan jadi 1 Milyar kalau kurang seribu rupiah, jangankan 1 Milyar, uang 500 ribu untuk bayar SPP semesteranku juga akan ditolak jika kurang seribu. Betul?
Seribu. Aku gelisah, resah, dan bigung dengan uang seribu yang kini ada digenggamanku. Sudah satu minggu ini aku bersama uang seribu rupiah, just seribu rupiah. Ya Allah...hamba-Mu ini bingung, benar-benar bingung harus bagaimana karena waktu pasti akan terus berjalan dan butuh pengeluaran yang banyak. Sedangkan uang yang kumiliki hanya tinggal seribu rupiah. Ya hanya seribu rupiah. Diantara kegelisahan, jauh dilubuk hati ini aku yakin pasti semua dapat kuatasi.
Jam berganti menit, menit berganti detik, dan detik demi detik telah kulalui. Tiba-tiba datanglah teman kuliah ke kosku, dia datang untuk membeli barang-barang daganganku, kebetulan waktu itu dia mau beli pigura. Setelah beberapa menit melihat akhirnya dia beli 3 buah pigura yang harganya masing-masing Rp. 7500, Rp. 8000, dan Rp. 10.000. jadi jika ditotal semuanya berjumlah Rp. 25.500. Subhanallah... kristal bening dalam bola mataku ini sudah memadati area mataku seakan mereka mau berhamburan untuk keluar. Tentunya aku masih bisa menahan gelombang deras ini.
Setelah temanku pergi, kristal bening ini akhirnya tumpah juga. Aku tak mampu lagi membendungnya. Allah, uang seribu rupiah itu telah berubah menjadi 26.500. Jauh dari cukup untuk keperluanku selama sebulan. Sebulan? Ya, sebulan. Jumlah uang itu cukup bagiku untuk keperluanku selama sebulan. Bagiku sudah terlalu cukup.
Allah tahu kebutuhan dari masing-masing hambanya. Alhamdulillah satu bulan ini aku bisa mengatasi keperluanku tanpa membebani keluargaku dirumah. Meski aku berasal dari keluarga yang terbilang sangat amat cukup tapi berkat didikan Mama, aku beserta saudara-saudaraku yang lain tidak termasuk anak-anak yang manja, yang selalu merengek bila membutuhkan sesuatu. Jika saja keluargaku tahu apa yang kualami pasti rumahku akan menjadi lauran kristal bening. Andai saja mereka tahu kenapa bisa seperti ini, jawabannya tidak lain karena aku telah berazzam untuk menjadi penolong dien (agama) Allah. Ya aku selalu mengingat sebuah hadits ”Allah akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya” dan akulah salah satu penolong-Nya. InsyaAllah.
Kisah ini nyata dan mungkin jutaan bahkan milyaran penolong dien-Nya juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kualami bahkan mungkin lebih dasyatnya ketimbang yang kualami. Kisah ini sengaja aku tulis karena semoga bisa menjadi semangat kaum muslimin yang lainnya untuk percaya akan janji Allah. Ya janji Allah.
Untuk teman-teman yang masih ragu, buang jauh-jauh keraguan itu karena keraguan itulah yang menjadi penghambat dirimu masuk ke Jannah-Nya. Ok, met berjuang ikhwah fillah dalam penegakkan syari’at secara totalitas dalam semua lini kehidupan tentunya dalam naungan sistem Islam yaitu DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH. AllahuAkbar!


(*dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)

Nol…*



Ya ini kisah yang sejenis seperti yang kutulis sebelumnya. Kisah ini sengaja kutulis karena aku menemui banyak orang yang tidak percaya akan janji Allah sehingga mereka tidak bersegera untuk menjalankan syari’at Allah. Bahasa gaulnya tidak bersegera untuk menjalankan aturan-aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Ya...ya...ya semoga Anda yang membaca tulisan ini bukan termasuk orang-orang yang menunda-nunda untuk terikat dengan aturan Allah. Amiin.
Kalau sebelumnya kisah saya seribu rupiah tapi saat ini adalah nol, ya nol yang berarti saya sudah tidak punya uang lagi padahal hari-hari masih panjang untuk dilalui. Tapi bagaimana lagi jika memang sudah gak punya uang lagi ya jadinya nol deh. Sama seperti kisah sebelumnya aku juga bingung, resah, gelisah semuanya bercampur jadi satu. Hanya ada satu jalan tapi itu dengan keterpaksaan yang sangat. Aku harus mengambil uangku di seorang teman. Akhirnya aku sms-in dia dengan permintaan maaf yang sangat karena aku tahu kondisinya juga nggak jauh beda denganku. Dan hasilnya, nihil. Aku paham dan bisa mengerti. Aku hanya bisa berkata ”Allah, hamba telah membuat transaksi dengan-Mu. Pasti Engkau merencanakan sesuatu yang teramat indah bagiku. Ya teramat indah.”
Aku buang jauh-jauh keresahanku dengan nimbrung, ngobrol dengan teman-teman kosanku. Hm...Ya Allah pernahkah mereka mengalami sepertiku. Semoga jangan, ya jangan sampai mereka mengalami sepertiku, biarlah aku saja. Diantara tawa canda yang mereka berikan padaku sudah cukup bagiku untuk mengobati keresahanku. Tapi...lagi-lagi wujud cinta Allah itu kurasakan untuk sekian kalinya. Temanku yang menjualkan barang-barang daganganku dirumahnya menyerahkan hasil penjualan. Subhanallah, lagi kristal bening ini ingin berhamburan keluar. Setelah temanku pulang kulihat bungkusan plastik berwarna kuning itu sekilas terlihat jelas uang 20 ribu. Alhamdulillah, akhirnya aku buka bungkusan itu dan ternyata Allah...nol itu berubah menjadi Rp 98.000. Ya Allah...Nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?
Masihkah ada orang yang tidak percaya dengan janji Allah? Allahu’alam bish showab. Semoga Anda yang sebelum membaca tulisan ini termasuk golongan orang-orang yang menunda untuk terikat dengan aturan-Nya semoga setelah membaca tulisan ini Anda menjadi orang-orang yang bersegera untuk terikat dengan atura-aturan-Nya. ”Sami’na wa atho’na, saya dengar dan saya patuh ya Allah.”

(dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)

Senin, 05 Oktober 2009

aSa dan kerinDuan

dulu...
saat masa ini belum ku laluiasa itu begitu kuat di kalbu
tapi...berjalannya waktu, hampir saja aku tak mengenali titik terang dalam dinding kalbu
perlahan kudekati...ternyata itu aSaku
aSa yang selalu ku angankan dulu
yang ditemani do'a dari orang terkasih...
bunDa yang menemani langkahku
memberi kehangatan di dinginnya dunia
yang membimbingku hingga sampai sekarang
jiwa itu yang selalu kurindukansenyum dan hangat pelukannya
ingin ku katakan dengan lantang pada alam ini
agar jiwa itu mengetahui kalau aku begitu mencintainya

Mom...iCh denke aN diR^^

teruntuk jiwa mungil yang pergi menemui Kekasih...

dalam masaQ...
kalian hadir tuk menemani hari-hariQ
keceriaan, celoteh, dan keluguan yang selalu tercipta mewarnai hari-hariQ
mampu mengobati lara yang kian menganga
bersama kalian asa ini tumbuh kembali...
tuk bangkit dari berbagai polemik
jazakilah telah menemani iBu...
meski dalam waktu yang teramat singkat
tapi senyum ceria itu masih lekat dalam memoriQ
menghiasi masaQ sampai iBu, benar-benar kembali pada kekasih Qt

aQ daN kaMu 1


Meski banyak orang mengatakan bukan
Meski banyak orang mengatakan tidak sama
Meski banyak orang mengatakan beda
Meski banyak orang yang berkata
aQ dan diA tetaplah kaMi
Qt adalah satU
Satu dalam aliRan darah hawa cinta kami

Walaupun seluruh dunia mengatakan...
aQ dan diA bukan bagian dari satU
Namun, sejak nafas hawa cinta kami terhembus dalam aliran darah kami
maKa, kaMi adalah satU