Izinkan aku mendapat pendamping seperti Azzam dalam tokoh novel Kang Abik Ketika Cinta Bertasbihnya. Seorang laki-laki yang optimis, pekerja keras, serta memiliki komitmen dalam hidupnya. Seperti aku yang bekerja keras dalam membantu keluargaku meski aku kadang kurang optimis dalam meraih impianku agar kelak menjadi inteprenur sejati. Hm...bangganya.
Izinkan aku mendapatkan pendamping seperti Fahri dalam tokoh novel Kang Abik Ayat-Ayat Cintanya. Seorang laki-laki yang sabar, penuh keikhlasan, smart dalam mengkaji dan mengamalkan ilmu Mu.
Izinkan aku mendapatkan imam yang cerdas, pandai, pekerja keras, yang selalu optimis dalam hidupnya, penuh kesabaran dan keikhlasan, mempunyai komitmen tinggi akan ideologi, dan tak kalah pentingnya dia seorang hamba yang menjadikan hidupnya untuk berjuang demi tegaknya Islam dan izzah kaum muslimin. Terlalu sempurna memang, tapi itulah harapanku. Harapan seorang hamba akan pasangan jiwanya yang kelak mendidik jundi-jundi penerus dien Islam.
Aku bukanlah wanita yang terpikat pada ketampanan seorang pria. Bukan pula pada harta yang melimpah. Aku hanya menginginkan seorang pria yang totalitas penghambaannya pada Allah, karena dengan cintanya pada Al Kholik pasti dia akan mencintai yang lain dan akan mendapatkan dunia seisinya.
Aku tak lagi memikirkan statusnya. Lajang, duda, ataupun pria yang sudah beristri. Yang aku inginkan dia mampu menjadi pemimpin dan pengayom bagiku, anak-anak, dan keluarga.
Jika dia pria beristri maka aku berharap dia panutan bagi keluarganya sehingga mampu membuat rumahnya harum bagai kesturi, bercahaya bagai permata, dan selalu didatangi para malaikat karena suara merdu dalam menyenandungkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana setiap kaki yang masuk kedalam rumahnya akan merasakan kedamaian dan merasa enggan jika beranjak pulang.
Jika dia duda maka aku berharap dia adalah bapak yang mampu mendidik dan membimbing anak-anaknya agar kesolehan terbentuk diantara mereka.
Jika dia lajang maka aku berharap dia adalah pria yang tidak pernah membuat ikatan yang tidak disyari’atkan. Aku berharap ketika melihat wajahnya, ada keteduhan yang terpancar hingga membuat damai mata memandang sampai relung hatiku. Jika aku mendengar suaranya aku berharap nasehat-nasehat yng selalu terucap untuk selalu meningkatkan ketaqwaanku pada Kholikku. Jika melihat lakunya aku berharap keistiqomahan dan semangat da’wah yang selalu diukirnya.
Jika dia adalah dia aku berharap semoga dia yang terbaik bagi dien Islam sehingga dia baik untukku, keluarga, dan lingkunganku. Allah, siapa dia? Sampai detik ini aku belum juga menemukan tanda-tanda itu. Namun aku berharap semoga dia sabar dalam menantiku seperti aku sabar menanti akan hadirnya.
(dikutip dari kumpulan cerpen karya Nur Hasanah)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar