Selasa, 06 Oktober 2009

Nol…*



Ya ini kisah yang sejenis seperti yang kutulis sebelumnya. Kisah ini sengaja kutulis karena aku menemui banyak orang yang tidak percaya akan janji Allah sehingga mereka tidak bersegera untuk menjalankan syari’at Allah. Bahasa gaulnya tidak bersegera untuk menjalankan aturan-aturan Allah yang sudah ditetapkan-Nya. Ya...ya...ya semoga Anda yang membaca tulisan ini bukan termasuk orang-orang yang menunda-nunda untuk terikat dengan aturan Allah. Amiin.
Kalau sebelumnya kisah saya seribu rupiah tapi saat ini adalah nol, ya nol yang berarti saya sudah tidak punya uang lagi padahal hari-hari masih panjang untuk dilalui. Tapi bagaimana lagi jika memang sudah gak punya uang lagi ya jadinya nol deh. Sama seperti kisah sebelumnya aku juga bingung, resah, gelisah semuanya bercampur jadi satu. Hanya ada satu jalan tapi itu dengan keterpaksaan yang sangat. Aku harus mengambil uangku di seorang teman. Akhirnya aku sms-in dia dengan permintaan maaf yang sangat karena aku tahu kondisinya juga nggak jauh beda denganku. Dan hasilnya, nihil. Aku paham dan bisa mengerti. Aku hanya bisa berkata ”Allah, hamba telah membuat transaksi dengan-Mu. Pasti Engkau merencanakan sesuatu yang teramat indah bagiku. Ya teramat indah.”
Aku buang jauh-jauh keresahanku dengan nimbrung, ngobrol dengan teman-teman kosanku. Hm...Ya Allah pernahkah mereka mengalami sepertiku. Semoga jangan, ya jangan sampai mereka mengalami sepertiku, biarlah aku saja. Diantara tawa canda yang mereka berikan padaku sudah cukup bagiku untuk mengobati keresahanku. Tapi...lagi-lagi wujud cinta Allah itu kurasakan untuk sekian kalinya. Temanku yang menjualkan barang-barang daganganku dirumahnya menyerahkan hasil penjualan. Subhanallah, lagi kristal bening ini ingin berhamburan keluar. Setelah temanku pulang kulihat bungkusan plastik berwarna kuning itu sekilas terlihat jelas uang 20 ribu. Alhamdulillah, akhirnya aku buka bungkusan itu dan ternyata Allah...nol itu berubah menjadi Rp 98.000. Ya Allah...Nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?
Masihkah ada orang yang tidak percaya dengan janji Allah? Allahu’alam bish showab. Semoga Anda yang sebelum membaca tulisan ini termasuk golongan orang-orang yang menunda untuk terikat dengan aturan-Nya semoga setelah membaca tulisan ini Anda menjadi orang-orang yang bersegera untuk terikat dengan atura-aturan-Nya. ”Sami’na wa atho’na, saya dengar dan saya patuh ya Allah.”

(dikutip dari kumpulan kisah yang ditulis Nur Hasanah)

Senin, 05 Oktober 2009

aSa dan kerinDuan

dulu...
saat masa ini belum ku laluiasa itu begitu kuat di kalbu
tapi...berjalannya waktu, hampir saja aku tak mengenali titik terang dalam dinding kalbu
perlahan kudekati...ternyata itu aSaku
aSa yang selalu ku angankan dulu
yang ditemani do'a dari orang terkasih...
bunDa yang menemani langkahku
memberi kehangatan di dinginnya dunia
yang membimbingku hingga sampai sekarang
jiwa itu yang selalu kurindukansenyum dan hangat pelukannya
ingin ku katakan dengan lantang pada alam ini
agar jiwa itu mengetahui kalau aku begitu mencintainya

Mom...iCh denke aN diR^^

teruntuk jiwa mungil yang pergi menemui Kekasih...

dalam masaQ...
kalian hadir tuk menemani hari-hariQ
keceriaan, celoteh, dan keluguan yang selalu tercipta mewarnai hari-hariQ
mampu mengobati lara yang kian menganga
bersama kalian asa ini tumbuh kembali...
tuk bangkit dari berbagai polemik
jazakilah telah menemani iBu...
meski dalam waktu yang teramat singkat
tapi senyum ceria itu masih lekat dalam memoriQ
menghiasi masaQ sampai iBu, benar-benar kembali pada kekasih Qt

aQ daN kaMu 1


Meski banyak orang mengatakan bukan
Meski banyak orang mengatakan tidak sama
Meski banyak orang mengatakan beda
Meski banyak orang yang berkata
aQ dan diA tetaplah kaMi
Qt adalah satU
Satu dalam aliRan darah hawa cinta kami

Walaupun seluruh dunia mengatakan...
aQ dan diA bukan bagian dari satU
Namun, sejak nafas hawa cinta kami terhembus dalam aliran darah kami
maKa, kaMi adalah satU